Daerah

Kapolsek Rupat Utara Imbau Warga Untuk Tidak Membakar Lahan dan Hutan

Kapolsek Rupat Utara, Akp. Jasri Tabing

RUPAT UTARA (PRC) – Kapolsek Rupat Utara mengingatkan kepada warga agara waspada pada Musim kemarau panjang yang terjadi terakhir ini. Situasi musim kemarau berkepanjangan, sangat rentan terjadinya kebakaran hutan atau lahan walau hingga saat ini belum ditemukan titik api di wilayah Kecamatan Rupat Utara.

Namun Kapolsek Rupat Utara Akp. Jasri Tabing mengimbau warga untuk tidak melakukan pembakaran hutan atau lahan dengan sengaja.

Karena jika terjadi kebakaran hutan dan lahan akan berdampak terhadap pencemaran udara yang dapat merugikan kesehatan dan juga materi bahkan pelaku karhutla akan diproses hukum dengan pasal berlapis.

“Dalan beberapa hari ini kita sudah intens melakukan patroli ke lapangan bersama Bhabinkamtibmas yang ada di setiap desa yang tergolong rawan kebakaran hutan atau lahan. Selain itu kita juga sudah melakulan sosialisasi tentang dampak dari karhutla. Karena setiap pelaku karhutla akan dapat berhadapan dengan proses hukum dan sanksi pasal berlapis," terang Akp.Jasri Tabung.

Kapolsek juga mengharapkan agar masyarakat dapat menjalankannya  untuk terciptanya lingkungan yang bersih dan asri. Ditambahkan kepada masyarakat juga dihimbau agar jangan membuka lahan (land clearing) dengan cara membakar.

“Bila menemukan titik api di lokasi lahan milik pribadi atau milik orang lain agar segera melaporkan kepada pemerintah setempat, instansi terkait, Polri/TNI untuk dilakukan pemadaman secara bersama-sama guna mengurangi luas lahan karlahut,” imbuhnya.

Perlu diketahui oleh masyarakat bahwa terhadap pelaku pembakar hutan dan lahan akan dikenakan pasal berlapis karena melakukan tindak pidana.

Diantaranya UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 50 huruf d yang berbunyi setiap orang dilarang membakar hutan, serta pasal 78 ayat 3, ancaman penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar, dan pasal 78 ayat 4, ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar.

Kemudian UU  Nomor 18 tahun 2004 tentang Perkebunan pasal 48 ayat 1 berbunyi Bila dengan sengaja membuka atau mengolah lahan dengan cara membakar yang berakibat terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan hidup, dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Selanjutnya UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 108, Melakukan pembakaran lahan dengan cara membakar, diancam pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 10 tahun serta denda paling sedikit Rp3 miliar hingga Rp10 miliar dan terakhir KUH Pidana pasal 187.

“Dengan sengaja melakukan pembakaran, diancam pidana penjara 12 tahun. Kita berharap dengan ancaman tersebut kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisasi dengan baik hingga tercipta iklim yang sehat, bersih dan asri,” pungkasnya.***




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan