Jalan Parah Tempat Berkubang

Derita Panjang Masyarakat Kep. PALIKA, Jalan Rusak Hingga Bersalin Dijalan.

PantauRiau.com- Kondisi jalan lintas dan jalan-jalan penghubung Dusun di Kepenghuluan Pasir Limau Kapas jadi kubangan saat musim penghujan. kepada Media Pantau Riau Ahad (10/01/2021) masyarakat berkeluh kesah tentang yang mereka alami selama ini.

Seperti apa yang di ketahui publik Rokan Hilir tentang jalan Lintas Kubu yang rusak parah. Hal ini juga di alami masyarakat eks Kecamatan Kubu yakni Kepenghuluan Pasir Limau Kapas.
Namun perbedaannya kondisi jalan Kubu hanya rusak parah pada jalan Lintas Kabupaten. Sedangkan Kepenghuluan Pasir Limau Kapas merata mengalami kerusakan parah. Baik jalan Lintas Kecamatan maupun jalan-jalan penghubung antar dusun hingga gang-gang kecil yang masih beralaskan tanah.

Jalan Kuning Jalil merupakan jalan lintas utama yang menghubung kan Kepenghuluan Pasir Limau Kapas dengan kota Panipahan ibu kota Kecamatan Pasir Limau Kapas. Wilayah ini berjarak sekitar 21 km. Perhitungan waktu tempuh 1 jam perjalanan dengan kecepatan kendaraan rata-rata. Dalam kondisi jalan rusak parah saat ini Pengendara hanya bisa berjalan dengan rata-rata 20km/jam. Sehingga memakan waktu 2 jam lebih karena tak jarang sepeda motor yang dikendarai warga terpaksa didorong pada titik-titik jalan yang rusak parah seperti lobang besar atau banjir berlumpur pada saat hujan. Sedikit terbantu dibeberapa titik jalan warga sekitar berinisiatif memperbaiki jalan, menutup lobang berupa kayu teki dan pohon kelapa yang diracik sebagai alas jalan.

Tak ubah melewati jalan-jalan sawah. Berlobang-lobang, gundukan tanah licin dan berlumpur saat hujan. Diperparah semenisasi yang pernah dibangun Pemkab Rokan Hilir hancur, menjadi berbahaya seperti berjalan diatas batu cadas. Jika pengendara kurang mahir bisa berakhir musibah. 

Kejadian tragis, sempat viral beberapa saat menghiasi jagad maya publik Rokan Hilir.  Peristiwa itu dialami seorang ibu hamil hendak bersalin tinggal di daerah Lonsum menuju praktek Bidan Santi ke daerah Siandam. Biasanya waktu tempuh antara kedua daerah tersebut hanya sekitar 1/2 jam perjalanan. Tapi karena kondisi jalan sangat parah hingga banyak memakan waktu dalam perjalanan. Kala itu bertepatan dengan kondisi Pandemi covid19 terkait Peraturan Kesehatan ditetapkan Pemerintah bahwa Warga hanya diperbolehkan melakukan bersalin di tempat Rumah Sakit, klinik  praktek bidan atau puskesmas. Hal yang tak diinginkan terjadi, akhirnya ditengah perjalanan ibu tersebut terpaksa bertaruh  nyawa melakukan persalinan di semak-semak pinggir jalan dengan bantuan ibu-ibu yang ikut serta berangkat ke praktek Bidan.

Kondisi ini berdampak buruk pula pada perekonomian warga. Banyak masyarakat terpaksa berlapang dada dengan Harga sawit yang jatuh. Jika di daerah normal seperti kota Bagansiapiapi harga TBS Rp. 1000/kg, di Pasir Limau Kapas hanya berkisar Rp. 500/kg. Hal ini disebabkan biaya operasional meningkat. Proses panjang mengantarkan buah sawit kepada agen menghabiskan biaya besar. Sehingga kerab masyarakat memilih tidak panen ketika harga tidak menguntungkan.

 Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari banyak pula warga hanya bisa makan seadanya. Kedai-kedai yang menjual bahan kebutuhan pokok sering kehabisan stok. Jika ingin berbelanja warga secara berombongan melalui jalur laut menggunakan boat/kapal ke kota Panipahan. Itu pun tak setiap waktu bisa dilakukan. 

Aljuhaimi Ketua RT 01 RW 12 Dusun 2 Batang Kopau tinggal dari kecil hingga sampai saat sekarang ini. Bekerja sebagai pelangsir Sawit mengalami langsung bagaimana susahnya tinggal di Pasir Limau Kapas. Kepada Awak media dia menjelaskan prihal seputaran kondisi Pasir Limau Kapas secara faktual. 

"Susah kali kami, saat musim kering kami  berkubang dengan debu, saat musim hujan kami berkubang dengan lumpur. Jalan pasey tak ado cantik do, mulai jalan lintas, gang-gang tak ado yang elok. Kalau musim koeng Naek Honda Aso pakai Kudo, musim hujan naik Honda Aso naik kobauw." Ungkap Al Juhaimi lengkap dengan dialeg Melayu Rokan Hilir.

Sementara awak Media Pantau Riau berhasil mendapatkan informasi kepada Datuk Penghulu/Kepala Desa Agus Salim . Agus Salim menjelaskan.

"Sejak lama kami di Pasir Limau Kapas ini masalah yang paling utama adalah infrastruktur jalan. Jalan sebagai urat nadi kehidupan masyarakat belum pernah berfungsi selayaknya daerah-daerah lain." Jelas Agus. 

Jalan Lintas Kuning Jalil sebagai jalan utama. Berkali-kali di ajukan dalam Musrenbang. Malah, Pernah didepan Masjid Al Ihsan, di hadapan masyarakat Pasir Limau Kapas Bupati Suyatno berjanji akan membangun jalan ini dengan anggaran sebesar 10 milyar Rupiah. Namun belum juga mendapat tempat pada APBD Kabupaten Rokan Hilir.


"Saya tak pernah lupa jalan lintas ini. Berkali-kali dalam Musrenbang kami usulkan. Malah pada saat kunjungan Bupati Suyatno ke Pasir Limau Kapas. Beliau Berjanji akan membangun jalan ini dengan nilai anggaran 10 Milyar Rupiah". Ulas Agus.

Merujuk pada kebijakan pemerintah. Berkaca dari Kondisi wilayah pesisir Propinsi Riau kerab menjadi topik menarik pembahasan para Pegambil Kebijakan, para Wakil Rakyat beserta Akademisi-akademisi. Alhasil wilayah ini yang seharusnya menjadi skala prioritas pengentasan kemiskinan tidak jelas dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2019-2024. Sementara Dari data BPS tingkat kemiskinan wilayah pesisir Rokan Hilir 6,67,% tergolong masih tinggi jika dibandingkan dengan Kota Pekanbaru hanya 3%. 

Disisi lain, Bencana Non Alam dampak Dari Pandemi Covid19 belum pula berakhir. Berdampak pada ekonomi global masyarakat. Berdampak pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Rokan Hilir. Berdampak pada kapan tercantumnya nama Jalan Kuning Jalil lintas Kepenghuluan Pasir Limau Kapas Kabupaten Rokan Hilir.

"Kita tidak tahu mau mengadu ke mana lagi. Banyak wakil Rakyat anggota DPRD putera asli Pasir Limau Kapas tak ambil peduli. Inilah nasib kami." Tutup Al Juhaimi. ✍(AlieSN)




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan