Budaya asing, merusak moral.

BUYA HAMKA RIAU, VALENTINE DAYS BERTENTANGAN DENGAN AGAMA

Buya Hamka Riau penulis, politisi, pendidik, ulama dan tokoh masyarakat Riau

PantauRiau.com- Valentine days budaya asing yang berkedok hari kasih sayang seyogianya sangat bertentangan dengan budaya dan agama di Indonesia. Setiap  tanggal 14 Februari jadi problematika perbincangan tanpa solusi kongkrit.

Polemik Valentine Days tiap bulan februari tersebut biasanya terkait; Apakah Boleh atau tidak di rayakan. Apa faedah dan apa efek negatifnya.

Pertanyaan ini muncul dari orang-orang yang sesungguhnya memiliki jawaban, namun enggan meletakkan hukum (justifikasi). Berbeda dengan pandangan orang-orang yang tidak berorientasi pada hukum agama atupun nilai budaya. Praktek ini terkesan boleh-boleh saja dan lebih mirisnya budaya asing ini dirayakan dengan suka cita.

Sejauh ini, meskipun acap kali menjadi perbincangan pro dan kontra tiap tahunnya. Namun belum ada garis merah kebijakan yang bisa dijadikan landasan hukum, agar budaya yang dikatakan banyak orang sebagai perusak moral generasi muda ini tidak lagi dirayakan. Atau boleh dirayakan dengan kriteria tertentu serta tidak menabrak norma-norma yang ada.

Lantas, apakah hal ini diabaikan atau terserah kepada masing-masing individu. Bagaimana jika budaya asing ini sudah merebak di kota Bagansiapiapi yang kental dengan adat, resam, budaya dan Melayu Islam. Atau Negeri Melayu Riau secara keseluruhan. Masih pantaskah filosofi "adat bersendi syara, Syara' bersendi kitabullah" dikumandangkan. 

Buya Hamka sapaan akrabnya, Ahmad khotbah nama aslinya, Amat Tubah "Singa Podium" gelarnya disemat oleh orang Bagansiapiapi. Beliau adalah seorang Ulama Riau yang gigih memperjuangkan hak masyarakat Riau, bergelut didunia pendidikan dan penulis buku, atensi besar terhadap persoalan ini. Tiada siapapun bertemu dengannya tanpa sentuhan kasih sayangnya. Karena hari-harinya terhadap santri, kerabat, masyarakat, istri dan anak-anaknya beliau curahkan kasih sayang yang katanya itulah Islam. 

"Izinkan saya mengajak para sahabat Muslimku, agar tidak merayakan hari tersebut karena bertentangan dengan keyakinan kita sebagai ummat Islam. Mari kita jaga anak-anak kita, saudara mara kita, agar mereka tidak membesarkan hari yang bukan hari besar kita. Kepada sahabatku non muslim silahkan rayakan hari yang jika diyakini tak terpisahkan dari keyakinannya. Dan itulah bagian dari toleransi diantara kita." Pintanya.

Isyhadu bi Anna muslimin "saksikanlah sesungguhnya kami ini adalah Muslim." Tegakkan agama Allah secara kaffah. Dengan tidak keliru menghidupi budaya yang sangat bertentangan dan merugikan masa depan. Sebagaimana hari Valentin itu penuh dengan praktek bebas tanpa batas, jarak dan merusak martabat diri. Dalil kasih sayang, namun menambrak norma dan merusak tatanan dalam kehidupan.

Dan sesungguhnya pula bangsa Melayu adalah bangsa bertauhid. Budaya yang telah mengakar jadi identitas. Budaya yang terkandung nilai luhur, perekat hubungan antar sesama dan norma-norma yang menjadi perisai pelindung  Marwah diri setiap insan Melayu. 

✍AlieSN




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan