Daerah

AKIBAT PENDANGKALAN SUNGAI PENGHASILAN NELAYAN SEI. NYAMUK BERKURANG

Nelayan Sei. Nyamuk saat menimbang hasil tangkapan

PantauRiau.com- Nelayan kepenghuluan Sei. Nyamuk Kecamatan Sinaboy Rokan Hilir keluhkan pendangkalan sungai  akibat sedimentasi. Senin (19/4/2021).

Sungai Nyamuk dahulunya luas dan dalam. Siang maupun malam tiada kecemasan nelayan saat melintasinya. Namun 10 (sepuluh) tahun belakangan, aktivitas nelayan telah di batasi oleh debit air. Pendangkalan lah salah satu penyebabnya.

Apabila pasang kecil/pasang mati banyak nelayan memilih beristirahat dari melaut. Selain hasil tangkapan kurang memuaskan pada masa pasang tersebut. Kondisi Alur sungai yang sempit dan dangkal bisa mengakibatkan petaka bagi nelayan. 

Hal ini kerab dialami oleh para nelayan. Saat tidak beruntung, kapal boat yang menambrak tonggak kayu akan membuat kebocoran dan akhirnya karam. Kondisi ini tentunya menimbulkan kerugian besar bagi nelayan. 

Foto : tepat dibawah jembatan sungai nyamuk, terlihat hamparan lumpur dan tonggak kayu.

Sementara, keluhan nelayan telah berkali-kali disampaikan kepada wakil-wakil rakyat yang melakukan Reses. Baik DPRD Kabupaten maupun DPRD Provinsi.

"Mau bagaimana, kita selalu bermohon kepada dewan untuk pembersihan menggunakan alat berat. Tapi tak jua dapat perhatian khusus. Terakhir saya bersama kawan-kawan mengunjungi Pak Husaimi Hamidi di Pekanbaru. Kami sampaikan lagi, mudah-mudahan beliau perjuangkan tahun ini." Ungkap Kulin DH tokoh masyarakat sekaligus ketua HNSI Sinaboy.

selain Kulin DH, keluhan yang sama disampaikan oleh Rukiatik seorang pengusaha ikan asin kepada Awak media Pantau Riau saat melakukan investigasi.

"Usaha kami melibatkan 7 (tujuh) sampai 10 (sepuluh) orang pekerja. Kalau hasil Nelayan tidak banyak, macam mana orang kerja. Habis tu, agen, along-along datang hampa. Mau buat apa, barangnya tak ada. Harus di galilah sungai ini, biar nelayan makin banyak hari kerjanya." Jelas ibu Rukiatik dengan logat Sungai Berombangnya. 

Pendangkalan sungai yang berdampak pada keterbatasan waktu nelayan menangkap ikan. Tentunya berimbas kepada hasil dan pendapatan serta berimbas pula kepada pelaku usaha lainnya. Seperti agen, Along-along, pedagang eceran hingga kepada pekerja yang mengangantungkan nasib nya pada sektor ini.

Kemudian, merujuk data Pemdes sungai Nyamuk. Terhitung sekitar 400 KK Nelayan aktif. Puluhan rumah yang melakukan olahan ikan serta puluhan pedagang baik lokal maupun luar daerah.

Secara otomatis kedai-kedai setempat akan bernasib sama. Dengan berkurangnya hasil nelayan, tidak menutup kemungkinan daya beli masyarakat akan menurun. Maka perekonomian akan lesu. 

Lantas, seperti apa tindakan Kepenghuluan Sungai nyamuk terhadap persoalan ini.

"Sedaya upaya kami telah lakukan. Bersama masyarakat telah pun kami lakukan pembersihan. Tapi apalah daya tenaga dan peralatan seadanya. Untuk itulah, kami tak henti-hentinya menyuarakan ini. Telah pun kami sampaikan ke Dewan. Tapi beginilah, seperti yang kita saksikan." Ulas Daryamin Penghulu Sungai Nyamuk.

Bagi Daryamin, sungai adalah urat nadi perekonomian kepenghuluan Sungai Nyamuk. Sedangkan Nelayan berperan penting mewujudkan kesejahteraan. Maka harus jadi skala prioritas Pemerintah kedepannya.

"Saat situasi Rohil sulit begini. Kita berharap potensi sektor perikanan diperhatikan penuh. Jadi penunjang perbaikan perekonomian daerah. Untuk itu, Pemda bantu kami jadikan sungai berfungsi maksimal lagi." Pungkasnya. (AlieSN).


 




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan