Artikel

JEJAK SEJARAH : Kisah Bung Karno dan Dua Istrinya

(Dok: Hartini Soekarno. ©blogspot.com)

PANTAU JAKARTA - Di tengah kesibukannya sebagai presiden, Bung Karno pun harus mengatasi persaingan di antara istri-istrinya.

Pada 1 Mei 1963, UNTEA (Otoritas Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa) secara resmi mengembalikan kembali Irian Barat kepada Indonesia. Sebagai bentuk kegembiraan dan kemenangan, beberapa hari kemudian Presiden Sukarno memutuskan untuk mengunjungi wilayah Irian Barat.

Dilansir merdeka.com turut serta dalam rombongan Presiden Sukarno dari Jakarta seorang perempuan muda bernama Haryatie. Santer disebut-sebut sebagai calon istri baru sang presiden.

"Seorang anggota rombongan cerita kepada saya, Haryatie ikut di atas kapal penjelajah 'Irian Barat' yang membawa Presiden dari Ambon ke Kotabaru," ungkap jurnalis Rosihan Anwar dalam bukunya, Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965.

Pintu Istana Ditutup Rapat

Singkat cerita, kunjungan politis ke Irian Barat rampung. Pada 6 Mei 1963, rombongan Presiden Sukarno mendarat di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta. Haryatie merupakan satu-satunya perempuan yang ada dalam pesawat kepresidenan. Dan ternyata berita itu sudah tercium oleh Hartini, istri kedua Presiden Sukarno.

Dengan bercucuran air mata, Hartini menyambut kembalinya presiden di Lapangan Terbang Kemayoran. Dalam situasi tersebut, kemarahan nyata sekali terlihat di wajah Sukarno. Keadaan menjadi rumit karena Hartini ikut bersama Sukarno dalam mobil RI-1 yang menuju Istana Merdeka. Sedangkan Haryatie 'terpaksa' mengikuti dari mobil lain.

Suasana menjadi semakin tak menentu, saat rombongan tiba di Istana Merdeka. Alih-alih menyambut kedatangan ayahnya, putri-putri Presiden Sukarno dari istri pertamanya, Fatmawati, malah menutup pintu istana rapat-rapat. Terpaksalah Hartini dan Haryatie harus menunggu di beranda istana.

"Kabarnya Hartini dan Haryatie saat di beranda istana itu mengadakan percakapan terus terang dari hati ke hati," ungkap Rosihan Anwar.

Bertengkar di dalam mobil

Hartini lantas pulang ke Bogor dengan diantar langsung Presiden Sukarno yang disertai Brigadir Jenderal Sabur (Komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden) dan seorang sopir. Sepanjang jalan, Sabur dan sang sopir terpaksa harus menjadi 'saksi' pertengkaran mereka berdua selama perjalanan ke Istana Bogor.

Dalam suatu momen yang agak panas, Bung Karno lantas menyuruh sopir untuk merapat dulu di satu warung buah menjelang Cibinong.

Saat itulah, Priyatna Abdurrasyid, salah seorang sahabat Bung Karno yang baru saja pulang dari Kejaksaan Agung Jakarta menuju Bandung, dari mobilnya melihat Brigjen Sabur tengah berdiri sendiri di pinggir jalan. Priyatna langsung menghentikan laju kendaraannya tepat di depan Sabur.

"Aya naon euy, nangtung sorangan di jalan?" tanya Priyatna dalam bahasa Sunda. Artinya kurang lebih: Kenapa kamu berdiri mematung sendirian di pinggir jalan?

"Tuh Bapak di mobil keur pasea (lagi bertengkar) jeung Ibu," jawab Sabur seperti dikisahkan Priyatna Abdurrasyid dalam biografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani (disusun oleh Ramadhan KH.).

Hartini dan Resolusi Ibu Negara

Keesokan harinya, Hartini kembali ke Jakarta untuk menghadiri Kongres Wanita Perti. Kongres itu, kata Rosihan, tengah mempersiapkan sebuah resolusi yang isinya agar presiden mengakui Hartini sebagai Ibu Negara. Hal itu kemudian sampai ke telinga Sukarno.

 

Begitu mendapat kabar tersebut, Sukarno (tanpa mengindahkan banyaknya tamu hari itu) langsung meloncat ke dalam mobil yang kemudian bergerak cepat menuju Gedung Pemuda, tempat kongres itu dilangsungkan.

Sesampai di Gedung Pemuda, Hartini 'diambil' langsung oleh Bung Karno dan hari itu juga diantarkan kembali ke Bogor.

"Dengan begitu, ia mencegah terwujudnya resolusi yang hendak menyatakan Hartini sebagai 'Ibu Negara', ” ungkap Rosihan.

 




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan