Berita Manca negara

Barat Keliru Anggap Rusia Kehabisan Uang, Kata Peneliti Invasi Ukraina Malah Untung Besar

(Dok:Bloomberg/ Airspace Review)

PANTAU JAKARTA-Federasi Rusia menghasilkan banyak uang dari perang dengan Ukraina yang telah berlangsung selama enam bulan sejak dimulai pada 24 Februari 2022.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk perang justru lebih sedikit daripada uang yang diperoleh Moskow melalui operasi militer khusus di Ukraina. Keuntungan tersebut diperoleh dari penjualan sumber daya energi – minyak dan gas.

Kesimpulan ini dibuat oleh spesialis dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih di Finlandia.

Dikatakan, the Center for Energy and Clean Air Research telah menghitung penjualan sumber daya energi Rusia pada periode 24 Februari hingga 24 Agustus 2022.

Jika perkiraan ini dapat dipercaya, tulisnya seperti diberitakan portal Top War, Rusia menghasilkan 158 miliar euro dari perdagangan minyak dan gas selama periode tersebut.

Melansir airspacereview.com, sedangkan biaya untuk melakukan operasi militer khusus di Ukraina diperkirakan oleh Lembaga spesialis tersebut kurang dari 100 miliar euro.

Dengan demikian, berkat tingginya harga sumber daya energi dan perdagangan yang gencar, Rusia dapat membiayai operasi militer khusus di Ukraina dan malah menghasilkan keuntungan.

Sebelumnya, pihak Barat bertaruh bahwa Moskow akan kehabisan uang akibat menginvasi Ukraina dan terpaksa membatasi operasi militer khusus itu.

Dipaparkan, hingga saat ini Uni Eropa tetap menjadi pembeli terbesar bahan baku hidrokarbon Rusia.

 

Dari bulan Februari hingga Agustus 2022, negara-negara Eropa membeli minyak dan gas dengan jumlah total 85 miliar euro.

Pada saat yang sama, Jerman menghabiskan 19 miliar euro untuk pembelian sumber daya energi. Padahal, Jerman merupakan salah satu negara yang paling gencar mendukung bantuan militer ke Ukraina untuk berperang melawan Rusia.

Adapun China, saat ini berada di posisi kedua dalam hal pembelian sumber daya energi Rusia.

Beijing menghabiskan 35 miliar euro untuk pembelian hidrokarbon Rusia dari Februari hingga Agustus 2022.

Perlu dicatat, India juga membeli sumber daya energi dari Rusia di samping negara-negara Asia lainnya meningkat pembelian sumber daya energi dari Rusia.

Selain sumber daya energi, Rusia memiliki peluang lain untuk memastikan pendapatan yang tinggi bagi negaranya. Misalnya, dari makanan, karena Federasi Rusia adalah salah satu pemasok makanan terbesar di dunia.

Akibatnya, semakin perang berlangsung lama maka Rusia akan semakin mendapat keuntungan yang semakin besar.

Masalah bagi negara-negara Barat juga adalah bahwa negara-negara Eropa tidak memiliki apa pun untuk menggantikan hidrokarbon Rusia. Pasokan LNG AS maupun harapan untuk gas Aljazair atau Qatar tidak dapat sepenuhnya mengkompensasi kekurangan sumber daya energi Rusia.

Jadi, kesimpulannya, kata lembaga peneliti Finlandia, Eropa harus terus membeli gas dari Rusia jika tidak ingin mengalami krisi sumber daya energi.***




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan