Daerah

MARI MENGENAL SEJARAH DAN ASAL USUL SUKU AKIT PULAU RUPAT KABUPATEN BENGKALIS

" MARI MENGENAL SEJARAH DAN ASAL USUL SUKU AKIT PULAU RUPAT KABUPATEN BENGKALIS "

Pantauriau.com - Mari mengenal tentang Suku Akit yang termasuk Suku Asli di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis ,  Pada abad ke-17 sekelompok suku yang berasal dari Kalimantan datang ke wilayah kerajaan Siak dan bermukim di pinggiran sungai Siak. Kemudian sekelompok suku itu memohon kepada Sultan agar diberi izin untuk mengungsi ke daerah lain dengan alasan mereka sering diganggu binatang buas seperti harimau dan gajah. Akhirnya permintaan sekelompok suku tersebut diizinkan oleh yang Maha Mulia Sultan Siak untuk mencari pulau yang tidak ada binatang buas.

Sekelompok suku itupun berangkat menyusuri sungai ke muara Siak. Setelah sekian lama melakukan perjalanan, mereka sampai di pulau Padang, akan tetapi mereka berpikir binatang buas pasti masih bisa menyeberangi selat tersebut karena di antara kedua buah pulau hanya dibatasi oleh selat yang bersangkutan.

Kelompok suku tersebut kembali melakukan perjalanan menempuh lautan luas. Setelah melakukan perjalanan jauh yang cukup melelahkan, dari kejauhan mereka melihat sebuah pulau di bagian utara. Bagian baratnya terlihat sebuah sungai. Dengan diliputi perasaan gembira, sekelompok suku itupun melewati sungai itu. Mereka beristirahat setelah melabuhkan sampan mereka di tengah sungai itu sambil melepaskan lelah. Merekapun berbincang apa adanya. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sesosok bayangan manusia dari kejauhan yang berada di sebelah kiri masuk sungai. Salah seorang mereka lalu menarik jangkar sampan mereka, dengan tidak membuang waktu lagi kelompok tadi lalu mendayungkan sampan mereka mendekati bayangan tersebut. Setelah dekat nyatalah bahwa bayangan tadi adalah seorang nenek perempuan. Kelompok suku itu lalu menanyakan siapa yang memiliki pulau ini kepada si nenek. Nenek itupun menjawab bahwa pulau ini dimiliki oleh Datuk Empang Kelapahan. Lalu kemudian kelompok suku itu berkata kalau benar yang punya pulau ini Datuk Empang Kelapahan, apa boleh kami berjumpa dengan beliau nek? Jika kalian ingin jumpa Datuk Empang Kelapahan, jumpailah dahulu Datuk Kebeneh yang berada di sebelah kanan masuk sungai ini, kami adalah suami isteri jelas nenek dengan senang hati.

Setelah meminta diri, kelompok suku itu berangkat menemui Datuk Kebeneh. Setelah bertemu dengan Datuk Kebeneh, merekapun kemudian menyampaikan maksud dan tujuan mereka kepadanya bahwa mereka ingin mencari tempat pengungsian karena di tempat asal mereka sering diganggu binatang buas. Rasanya pulau ini aman dari gangguan binatang buas oleh sebab itu kami dari kelompok suku meminta diizinkan dari Datuk Kebeneh untuk menjumpai Datuk Empang Kelapahan. Berangkatlah kalian bersama Datuk Bintang Beheleh seorang nenek perempuan yang kalian jumpai tadi perintah Datuk Kebeneh,......temuilah Datuk Empang Kelapahan, yang duduk di Pelang Dalam.

Setelah mendapat penjelasan dan izin dari Datuk Kebeneh, berangkatlah kelompok suku dengan ditemani oleh Datuk Bintang Beheleh menjumpai Datuk Empang Kelapahan dengan menyusuri sungai tersebut. Sesampai di tempat tujuan, kelompok suku langsung menghadap dan menerangkan tujuan sebenarnya kepada Datuk Empang Kelapahan agar mereka diperkenankan untuk tinggal di pulau ini, dengan alasan di tempat asal mereka sering diganggu binatang buas. Lalu Datuk Empang Kelapahan bertanya asal- usul mereka. Mereka menjawab bahwa mereka berasal dari Hulu Sungai Siak, yang diperintah oleh Raja Kecil dengan gelar Sultan.

Setelah mendengar penjelasan dari kelompok suku itu, Datuk Empang Kelapahan tidak merasa keberatan dengan permintaan mereka dan mengizinkan mereka untuk bertempat tinggal di pulau itu dengan mengajukan permintaan sebagai syarat, yaitu harus menyerahkan Sekerat Mata Beras, Sekerat Tampin Sagu dan Sebatang Dayung Emas. Kalau permintaan itu bisa dipenuhi, mereka boleh tinggal di pulau ini sampai ke anak cucu.

Mendengar persyaratan yang demikian berat, kelompok suku sepertinya berputus asa, lalu mereka mengatakan kepada Datuk Empang Kelapahan bahwa bagaimana kami bisa memenuhi persyaratan tersebut, sedangkan kami hidup susah, bertempat tinggalpun tidak. Kemudian Datuk Empang Kelapahan menjawab,” kalau benar pulau ini adalah jodoh untuk kalian serta anak cucu kalian kelak, pergilah menghadap Sultan di Singgasana, ia pasti akan membantu kalian. Mendengar perkataan itu, kelompok sukupun merasa gembira. Kemudian kelompok suku meminta tempo selama dua kali tujuh hari kepada Datuk Empang Kelapahan untuk menghadap Sultan. Merekapun pergi menghadap Sultan. Setelah memakan waktu berhari-hari tibalah mereka di Istana menghadap yang Mulia Sultan dengan Tata Krama Kerajaan seperti biasa mereka lakukan. Lalu kelompok suku mengabarkan kepada Sultan bahwa mereka telah menemukan sebuah pulau yang bebas dari gangguan binatang buas seperti harimau dan gajah yang dimiliki oleh Datuk Empang Kelapahan yang ingin menukar pulau itu dengan Sekerat Mata Beras, Sekerat Tampin Sagu dan Sebatang Dayung Emas yang tidak bisa kami penuhi




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan