DUMAI

Di Tengah Letak Geografis dan Topologis Miliki Potensi Bencana, Dumai Terus Berjuang Tuntaskan Persoalan Banjir

F ist Walikota Dumai H Paisal sedang sedang melihat dari dekat pekerjaan pengerukan yang dilakukan ekskavator amphibi sebagai salah satu penanggulangan banjir akibat cuaca ekstrim termasuk banjir rob menysul wilayah itu terletak di dataran rendah memili

PANTAU DUMAI - Banjir bukan sekedar bencana bagi masyarakat kota Dumai, melainkan agenda rutin yang selalu datang pada waktu dan bulan tertentu di setiap tahunnya, terutama bagi kehidupan warga yang bermukim di kawasan perkotaan.

Beberapa hari lalu, suara langit Dumai bergetar dan bergemuruh berulang-ulang. Angin kencang dan curah hujan seolah memberi pesan bahwa musim hujan telah tiba, yang bermakna bahwa warga perkotaan harus siap kembali bercokol dengan genangan air di dalam kehidupan sehari-hari.

 Disaat banjir tiba, cuitan-cuitan warga tercurahkan di berbagai platform media sosial. Narasi yang dibangun pun beragam, mulai dari menyalahkan pemerintah, politik hingga ada yang berpikir bahwa Dumai tidak bisa terhindar dari banjir.

Letak geografis Kota Dumai di Provinsi Riau memang memihak kepada air, daratan yang cekung dan rendah membuatnya rentan akan banjir. Sebagian besar daratan justru berada pada hulu sungai dan pesisir laut.

Berbagai penelitian dan pemerintah mengungkapkan beberapa penyebab utama banjir di Dumai antara lain, Banjir akibat curah hujan yang cukup tinggi, sehingga menggenangi daratan cekung. Jika curah hujan sudah tidak mampu tertampung lagi maka akan memicu terjadinya banjir di pemukiman warga.

Ya, Dumai masih menjadi kota yang sering terkena banjir karena letaknya yang berada di Kawasan pesisir Timur Pulau Sumatera dan sebagian besar wilayahnya berada di dataran rendah yakni sekitar 3 meter diatas permukaan laut (Sihaloho, 2022).

Selain itu, drainase yang dibangun pada beberapa dekade belakangan tidak mampu lagi menopang debit air sehingga meluap hingga ke daratan. hal itu dipicu curah hujan ektrem dan air pasang rob.

Penyebab lebih dominan yakni daratan Dumai yang cekung tidak sebanding dengan tinggi air disaat pasang rob terjadi, sehingga meski tidak terjadi hujan sebagian rumah penduduk di kawasan kota tetap terendam air. Banjir pasang rob justru lebih rutin terjadi, bahkan pemerintah dan pihak terkait telah mendeteksi waktu dan tanggal kapan akan terjadinya air pasang rob dalam satu tahun.

Air pasang laut atau rob terjadi pada wilayah daratan yang terkena penurunan muka tanah, terutama pada kawasan kota yang berdekatan dengan aliran sungai dan pesisir laut.

Pengendalian

Meskipun banjir sepertinya tidak terelakkan, namun pemerintah kota Dumai terus berupaya melakukan berbagai terobosan agar bisa mengendalikan banjir.

Pada kepemimpinan Walikota H Paisal SKM, Mars, pemerintah Dumai telah menggelontorkan hampir 100 miliar rupiah untuk penanganan banjir yang diimplementasikan dalam program khidmat penanganan banjir serta khidmat infrastruktur.

Tercatat sebesar Rp.83,7 miliar hingga 2023 alokasi anggaran sudah dikucurkan pemerintah untuk berbagai upaya penanganan banjir di kota Dumai.

Pemerintah telah membangun 18 pintu air, 15 rumah pompa, perbaikan, perluasan dan pembangunan 58 drainase, 209 kegiatan normalisasi saluran air di seluruh kecamatan terutama yang rawan terdampak banjir, serta pembangunan turap dan tanggul guna menghambat luapan air dari sungai ke daratan dan pemukiman warga.

Dalam pengendalian banjir, sistem drainase utama dibagi menjadi di bagian Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Hujan lokal pun akan dialirkan secara gravitasi ke sistem drainase kedua yang kemudian dibuang ke sistem utama hingga berakhir di laut.

 Sistem pompa membantu menyedot air yang menggenang dan mengembalikannya ke aliran sungai. Fungsi utama pompa-pompa ini adalah untuk memompa air dari tempat rendah ke tempat tinggi sehingga dapat memitigasi banjir dengan menyedot air yang menggenang dan mengalirkan ke tempat yang seharusnya, seperti sungai.

Dalam mendukung sistem pompa, maka dibangun tanggul-tanggul disepanjang aliran sungai yang rendah dan rentan meluap, serta pengendalian aliran air ke sumur resapan dan ruang terbuka hijau.

 Terkini

 Kepala Dinas Pekerjaan Umum Riau Satrya Alamsyah, ST., MT, dalam rapat Expose Kegiatan Penanggulangan Banjir Kota Dumai bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) serta Dinas Pertanahan dan Penataan Ruang menerangkan bahwa, program penanggulangan Banjir merupakan salah satu program khidmat prioritas Wali Kota.

Dalam rapat tersebut dibahas penyusunan kerangka materi untuk bahan kegiatan penanggulangan Banjir Kota Dumai,"Isinya berupa Kegiatan apa saja yang telah dilaksanakan dalam penanggulangan banjir berdasarkan atas Survey Investigasi Design (SID) Sungai Dumai dan Rencana Induk Saluran (RIS) Drainase Perkotaan yang disesuaikan dengan pola ruang wilayah dan kepemilikan," jelasnya.

 Dalam upaya menjalankan program penanganan banjir dan air pasang rob, pemerintah kota Dumai bersama pemerintah provinsi Riau akan melakukan pembangunan turap di bibir sungai yang rawan terjadi banjir. 

 Guna menggesa hal tersebut Dinas PU Dumai bersama Bappeda Provinsi Riau telah meninjau Lokasi Rencana Pembangunan Turap Di Jalan Belimbing, Kelurahan Rimba Sekampung, hingga Kecamatan Dumai Kota, Kamis (16/05/2024) kemarin.

 Tinjauan ini merupakan monitoring untuk survei lokasi rencana pembangunan turap oleh Bappeda Provinsi Riau terkait usulan Pembangunan Turap Sheet Pile Sungai Dumai bersama Bappeda Kota Dumai, dimana Permohonan Pembangunan Turap ini sendiri sebelumnya telah diajukan ke Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera 3.***




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan