Nasional

Ternyata Ini Misi Kapal Legendaris KRI Dewa Ruci ke Dumai, Apa Itu?

f efendi sitompul Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewa Ruci sedang bersandar di dermaga pelabuhan Pelindo, Dumai

PANTAU DUMAI- Setelah empat hari menempuh perjalanan 588 mil laut dari Belitung Timur, kapal layar KRI Dewaruci yang membawa anggota laskar rempah akhirnya bersandar di Dermaga C Pelabuhan Pelindo Dumai, Minggu (16/6/2024) pagi. Mereka akan menapaki sejarah jalur perdagangan rempah Kota Dumai dan Kabupaten Siak (Riau).

Sabtu malam, kapal sempat turun jangkar di laut Dumai menunggu waktu bersandar. Selama itu, para anggota laskar rempah, akademisi, para ahli, awak media serta para perwira dan taruna KRI Dewaruci berkumpul bersama di geladak kapal dan bernyanyi bersama merayakan malam perpisahan.

Para anggota laskar rempah menangis bersama karena ini malam terakhir mereka bersama KRI Dewaruci sebelum digantikan dengan kelompok laskar rempah kedua yang akan berlayar meneruskan rute Dumai-Sabang-Malaka-Tanjung Uban pada 18 Juni sampai 7 Juli. Lalu dilanjutkan kelompok ketiga dari Tanjung Uban-Lampung-Jakarta pada 7-17 Juli.

”Perjalanan tujuh hari di laut bersama KRI Dewaruci dari Jakarta-Belitung Timur-Dumai ini tidak akan pernah kami lupakan dalam hidup. Doakan kami terus memperjuangkan jalur rempah sebagai warisan budaya dunia,” kata Muhammad Jufri Rumadaul, anggota laskar rempah dari Merauke, Papua Selatan.

Kedatangan KRI Dewaruci, kapal jenis Barquentine nan legendaris, ini disambut meriah Forkopimda Dumai. Tarian selamat datang pun dipersembahkan. Anak-anak muda laskar rempah lalu ikut bersama taruna menaiki tiang layar Bima, Arjuna, dan Yudhistira berparade saat proses sandar.

Menurut kamus Wikipedia, kapal jenis Barquentine atau schooner barque (atau "barkentine" atau "schooner barque") adalah kapal layar dengan tiga tiang atau lebih; dengan tiang depan yang dipasang persegi dan tiang utama yang dipasang di depan dan belakang, mizzen, dan tiang lainnya.

Selama bersandar di Dermaga C Pelindo Dumai, kapal cagar budaya ini akan dibuka untuk umum, agar masyarakat bisa mengenal lebih dekat sejarah kapal yang sudah mengelilingi dunia itu. KRI Dewaruci dibuat di Jerman, dibeli Indonesia pada 1952 dan tiba di Tanah Air pada 1953.

”Kapal akan kami buka untuk umum. Silakan masyarakat melihat kapal legendaris kita ini,” kata Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Rhony Lutviadhani, S.T., M.Tr.Opsla., CTMP.

Sesampainya di darat, rombongan "Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) 2024" ini diajak mengikut Festival Multikultur di Taman Bukit Gelanggang. Malam harinya, mereka akan berdiskusi bersama Walikota Dumai, H Paisal, SKM., MARS.

"Jalur Rempah..!!! Menuju warisan Budaya Dunia..!!," yel-yel Laskar Rempah.

”Ini kebanggaan buat kami dikunjungi Dewaruci dan MBJR. Di sini ada 17 suku. Selain Melayu Dumai, ada juga Bengkalis, Siak, dan lain-lain. Setiap suku berbeda-beda. Kami ingin budaya ini terus dilestarikan agar tidak hilang ditelan bumi,” kata Paisal menyambut kedatangan MBRJ KRI Dewaruci.

 

Perjalanan mereka tak berhenti di Dumai. Malam harinya mereka langsung melanjutkan perjalanan darat ke kota Siak Sri Inderapura di Kabupaten Siak. Keesokan harinya, mereka akan menunaikan ibadah shalat Idul Adha di Lapangan Siak.

Peserta MBJR selama berkegiatan di Kota Dumai dan Siak akan menggelar Pameran Kuliner Tradisional dan Workshop Layang, Festival Budaya Multikultur, hingga seremoni pelepasan KRI Dewa Ruci, Rabu (19/6).

Di Siak, penjelajahan berlanjut ke beberapa obyek cagar budaya, seperti Tangsi Belanda, Kelenteng Hock Siu Kiong, Makam Koto Tinggi beserta Gudang Mesiu, Kompleks Istana Siak, Makam Sultan, dan Balai Kerapatan Tinggi. Rangkaian kegiatan tersebut ditutup dengan Gelar Budaya Melayu sempena Jalur Rempah tersebut.

Riau dan Rempah

Mengutip kompas.com Provinsi Riau memiliki sejarah dengan Kerajaan Siak (1723-1945) yang berdaulat dan memiliki wilayah kekuasaan yang membentang di bagian timur Pulau Sumatera dari pedalaman hingga pesisir. Kerajaan ini didiami oleh penduduk berbilang kaum suku bangsa, yaitu Melayu (Mayor), Sakai, Akit, Orang Utan atau Rawa, Minangkabau, Jawa, Tionghoa, Batak, Bugis, orang-orang Arab, Siam, dan India.

Sungai Siak atau Sungai Jantan

Sungai Jantan menjadi jalur niaga terpenting pada masa lampau dengan kekayaan hasil alam sebagai komoditas berharga, seperti gaharu, batu geliga, dan kapur barus. Dalam wacana besar Jalur Rempah, keberadaan sungai ini sering diabaikan, karena orang cenderung melihat Selat Malaka sebagai jalur yang seolah berdiri tunggal.

Padahal, sungai ini merupakan jalur penting. Itu sebabnya kerajaan Johor (Malaysia), Negeri Belanda, dan Kerajaan Pagaruyung (Sumbar) berebut peran dan pengaruh, karena kekayaan alamnya berikut aktivitas niaga yang tumbuh di sepanjang pesisir sungai itu. Ini didukung dengan kedalaman dan lebar sungai yang ideal sebagai jalur perdagangan utama pada abad-abad lampau di kawasan Sumatera Timur.

Menuju Unesco

MBJR merupakan program dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan TNI AL. Tahun ini, pelayaran dilakukan selama 39 hari mulai dari 7 Juni sampai 17 Juli 2024 dengan total jarak tempuh 3.105 Kilometer, mengikuti titik-titik jalur rempah jaman dahulu.

Adapun tujuh titik yang dituju adalah Jakarta, Belitung Timur, Dumai, Sabang, Malaka, Tanjung Uban, dan Lampung. Sebanyak 75 anggota laskar rempah dibagi menjadi tiga kelompok. Tiga kelompok  diseleksi dari masyarakat umum bersama peserta lainnya, yakni peneliti, akademisi, jurnalis, serta pegiat film dan foto. Mereka dipilih untuk turut melihat titik-titik sejarah jalur perdagangan dan budaya rempah.

Program ini telah digelar sejak 2020 sebagai bagian dari program prioritas nasional pemerintah. Bersama KRI Dewaruci, MBJR telah melintasi jalur rempah di Surabaya, Makassar, Baubau dan Buton, Ternate dan Tidore, Banda Naira, Kupang, dan kembali ke Surabaya pada 2020, serta jalur rempah di Surabaya dan Kepulauan Selayar pada 2023.

Direktur Perlindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Judi Wahjudin menjelaskan, pelayaran muhibah yang panjang ini adalah upaya Indonesia untuk mengajukan jalur rempah sebagai warisan budaya dunia kepada Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) yang ditargetkan bisa didapatkan pada 2024.

”Catatan perjalanan mereka akan masuk dalam dokumen yang sebentar lagi selesai dan bisa kita ajukan ke UNESCO,” kata Judi. (pul)




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan