Eksbis

Akibat Gelombang Tinggi Ratusan Truk Terlantar

PANTAU RIAU.COM-SURABAYA,Gelombang tinggi yang terjadi di Laut Jawa, utamanya di sekitar perairan Pulau Masalembu, memaksa sejumlah kapal Roll on-Roll off (Ro-Ro) yang berpangkalan di Dermaga Jamrud Selatan, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, memilih tidak beroperasi. Karenanya, kondisi tersebut memaksa ratusan truk pengangkut barang (kargo) tujuan Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) serta Maluku (Ambon) dan Papua, tertahan.

 

Kepala Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, Hari Setyabudi, yang dikonfirmasi, Sabtu (11/2) pagi, menjelaskan, gelombang tinggi membuat banyak truk harus tertahan akibat kapal-kapal pengangkut tidak berani dengan mengambil risiko. Pihak syahbandar juga sudah mengedarkan imbauan berdasarkan pantauan BMKG Maritim Tanjung Perak tentang gelombang tinggi yang terjadi di Laut Jawa.

 

"Kapal-kapal yang tidak berangkat karena gelombang tinggi adalah yang ke arah Kalimantan, NTB, dan arah timur yang lain. Ini karena mereka tidak ingin dihadapkan pada risiko alam terburuk," ujar Hari, sambil menambahkan, bahwa pihaknya belum mengetahui secara pasti kapan gelombang tinggi akan berakhir.

 

"Kita memang mendapat informasi tidak resmi (informal) dari teman di BMKG Maritim Tanjung Perak yang memprediksi gelombang tinggi kemungkinan terjadi hingga Rabu (15/2) mendatang."

 

Pada bagian lain, Hari menjelaskan, sebelum Hari Raya Imlek lalu, cuaca sudah mulai memburuk dan sekarang makin buruk. Gelombang Laut Jawa bisa mencapai 3-5 meter sehingga Kapal Ro-Ro yang berbobot mati 3.000 GT tidak berani berlayar.

 

"Kalau kapal Ro-Ro yang berbobot mati 5.000 GT mungkin masih bisa walaupun penuh risiko," ujarnya, mengomentari banyaknya kapal penyeberangan parkir di Pelabuhan Tanjung Perak karena tidak berani berlayar dengan risiko terburuk.

 

Hari menolak jika banyaknya antrean truk di Pelabuhan Tanjung Perak dikatakan membikin pelabuhan lumpuh. Kejadian ini sudah biasa jika terjadi cuaca buruk dan tidak hanya di Pelabuhan Tanjung Perak, tetapi juga di pelabuhan-pelabuhan lainnya.

 

"Aktivitas bongkar muat (operasional) di pelabuhan masih tetap berlangsung. Kapal yang besar yang tak terpengaruh gelombang tetap berlayar. Jadi keliru jika menyebut aktivitas pelabuhan lumpuh," ujarnya.

 

Sementara truk-truk yang memenuhi halaman parkir di Dermaga Jamrud Selatan Pelabuhan Tanjung Perak ada yang mengaku sudah sepekan dan bahkan ada yang sudah dua pekan. Mereka tidak bisa memaksa karena juga memilih keselamatan sebagai hal yang utama.

 

"Kita harus menerima keadaan (alam) ini karena tidak mau celaka," ujar Suryono (50) pengemudi truk barang tujuan Ambon, Maluku. Hal yang sama juga dikemukakan Mariadi (44) yang membawa angkutan barang sembako tujuan Papua.

 

Hampir semua truk yang tertahan itu tidak ada yang memuat muatan yang cepat busuk seperti buah-buahan dan atau sayur-mayur lainnya. Jika memuat buah-buahan atau sayur-mayur, terpaksa mereka memilih kembali. Mereka juga menyatakan terpaksa mengeluarkan uang tambahan akomodasi untuk bertahan hidup di dermaga Surabaya.

 

"Kita minta uang makan ke perusahaan mas, kan tidak cukup karena kondisi ini di luar perkiraaan," kata Suryono asal Malang dan dibenarkan Mariadi asal Kediri. Demikian pula dengan perusahaan ekspedisi dari kota-kota lainnya di Pasuruan dan Malang, menyatakan senada.

sumber suarapembaruan

 




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan