Artikel

BDI Pertamina  RU II Taja I’tikaf: Mendekatkan Remaja Islam Kepada Masjid

BDI Pertamina  RU II Taja I’tikaf: Mendekatkan Remaja Islam Kepada Masjid
Oleh: Zulkarnaen, S.Sn *).

Dumai Pantauriau. com-Dahulu, Tahun 1980, Masjid Al-muhajirin listriknya  dengan genset, masjid ini panas, belum ada penyejuk seperti sekarang, demikian Ustaz Muhammadun mengawali ceramahnya selepas Zuhur 9 Juni 2018. Ustaz mengkorelasikan  konteks dengan fakta kemarin, listrik padam di kompleks Pertamina RU II, ini cobaan lanjut ustaz.  Cerita ustaz ini mengingatkan masa lalu penulis sekira tahun 1990-an sampai tahun 2000, saat itu penulis menjadi penyiar radio  Gema Patra letaknya di utara masjid ini, satu bangunan dengan tempat wudu’ masjid. Pada masa itu, di sekitar masjid terdapat Pustaka masjid, radio masjid (Gema Patra), rumah Ghorim, BDI, dan Bazma. Jejak penulis ada di belakang kantor Bazma, tertulis “IZUL” sebuah jalan kecil menuju parkir timur masjid, parkir timur dahulu dijadikan tempat shalat Idul Fitri.
Kini, meskipun pustaka dan radio masjid tidak ada lagi, namun tampak  perkembangan signifikan seperti didirikan rumah tahfiz yang diresmikan GM Pertamina RU II Dumai tanggal 2 Mei 2018, terdapat mess ustaz  luar kota, kelas tahsin dan tahfiz, rumah imam masjid, rumah guru tahfiz, adanya WIFI (meskipun belum untuk umum), adanya program Kultum Berbuka Puasa, Program I’tikaf dan Sahur bersama dan segudang program di adakan di masjid Al-Muhajirin. Lalu apa yang menarik dicatat untuk pembaca? Adalah remajanya.
  
Peresmian Tahsin dan Tahfiz Almuhajirin
Dokumen: Zulkarnaen


Penulis dan GM Pertamina RU II disela-sela Peresmian Tahsin dan Tahfiz

Jauh sebelum Hurlock menjadi pakar psikologi anak-anak hingga dewasa, tokoh Islam imam Al-Ghazali telah membahas moral remaja yang mengatakan sifat buruk remaja dapat diubah dan dilatih dengan pendekatan kekinian  menggunakan peran akal, syariah, akidah dan iman. Hurlock juga membahas remaja, menurut pakar psikologi barat Hurlock, remaja merupakan kelompok manusia berumur 10-18 tahun, sedang mencari jati diri siapa dia sesungguhnya, gemar mencoba-coba, menyukai musik populer, merokok, menilai orang tua, membicarakan keburukan orang tua, membentuk geng yang mengarah kenakalan remaja, demikian gambaran umum remaja. Tentu ada remaja yang telah berpikir dewasa, namun sedikit. Itulah hasil penelitian Hurlock. 
Pemikiran Al-Ghazali terlihat di masjid ini, yang penulis lihat dari fenomena I’tikaf di masjid Al-mujirin, peserta I’tikaf lebih dari 200 orang, dilaksanakan 7 tahun yang lalu. Program I’tikaf ramainya 3-5 tahun belakang ini, program dari Badan Dakwah Islam RU II didanai dari infak masjid dan Dharwa Wanita Pertamina RU II demikian bpk Taufik menerangkan singkat. I’tikaf ramai, di mulai 20 Ramadhan 1439 H sampai berakhir Ramadhan. Peserta yang 200 lebih itu terdiri dari setengahnya remaja, dan sekira 30 orang wanita. Program I’tikaf setelah shalat taraweh, pukul 22.00 – 23.00 WIB ceramah dan tadarus Qur'an dipimpin ustaz Farid  salah satu Imam  masjid Al-muhajirin, dilanjutkan istirahat sampai pukul 03.00 WIB, shalat tahajjud bernemaah sampai 03.40. seterusnya program yang ditunggu-tunggu. ini dia pemandangan menarik sahur bersama di teras masjid depan kantor Bazma dan BDI, syarat mendapatkan makan sahur,  ambil kupon setelah maghrib sampai setelah shalat taraweh, isi form sahur, lalu kupon ditukarkan untuk mendapatkan sebungkus nasi, lauk pauk dan pisang, setelah itu shalat subuh bersama dan mendengarkan kuliah subuh. 
Gbr atas dan bawah: Sahur bersama di teras Masjid Al-muhajirin
dokumen: Zulkarnaen

Dari pengamatan penulis kegiatan I’tikaf ini sangat bermanfaat. Biasanya remaja zaman now begadang di tepi jalan, di rumah teman, di tempat-tempat tak sebaik masjid, kini remaja dibawa ke masjid dengan segudang kegiatan ‘ubudiyah kepada Allah. Meskipun sekali-sekali mereka berinternet ria, tentu internet digunakan untuk hal positif karena remaja berada dalam masjid. Youtube tentang ilmu Islam dan ceramah dari ustaz kondang. Namun remaja seperti ini lebih baik dari pada remaja begadang di luar masjid yang penulis temui di sekitar jalan Sudirman. Mereka nongkrong ditepi jalan, bangga merokok di depan umum. Menggunakan fasilitas orang tua dengan congkak.  Atas kegiatan i'tikaf yang ditaja BDI RU II, penulis salut dengan BDI RU II dan panitia, program anda  membantu menunjukkan jalan lurus bagi remaja. 

Suasana istirahat menjelang sbalat tahajjud berjemaah
Kedepan, Muslim di Kota Dumai berharap banyak, BDI RU II dapat menambah program khususnya program untuk menyelamatkan remaja Islam di  Kota Dumai diantaranya dengan pendekatan seni Islam dan kajian ilmiah Islam, salah satunya musik Nasyid. Al-khindi, Alfarabi, Nasr, Yusuf Qardawi, mereka tokoh Islam penemu teori musik dan membolehkan musik dalam Islam tentu musik yang bermanfaat bagi Islam. Demikian ustaz kondang Abdul Somad mengutip dari pakar Islam.  Untuk menambah nutrisi remaja tentang Islam ada baiknya dibuat program kajian imiah Islam seperti seminar, bedah buku, tadarus Quran teks dan konteks (Dr. Khoirudin Basyori, Syiar Skrah Nabawiyah, 10 Juni 2018), lomba menulis tentang Islam, ini pun telah banyak dilakukan di masjid-masjid luar negeri seperti di Eropa, Amerika, Jepang,  (Net TV, Muslim Traveller, 8 Mei 2018). Sehingga remaja Islam di Kota Dumai semakin cerdas, berakhlak dan beriman.

*). Penulis adalah Mahasiswa S2 Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Guru, PNS Kota Dumai, Penulis di media massa Riau, Sumbar dan di media massa Nasional




[Ikuti PANTAURIAU.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0813 6366 3104
atau email ke alamat : pantauriau@gmail.com
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan PANTAURIAU.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan